ini ff ke 2 aq.yg prtama di rilis d fb,bwt chingudeul yg udh bca ni ff,tinggalin jajak d comen ya,
title:willing
Author:mina elf
Cast:
Ji eun
Yesung
Ji yeon
Heechul
Sun hwa
Ahjussi Leeteuk
yesung POV
“Ji eun!”teriakku.aku terengah-engah.tadi
aku terburu-buru ke rumah ji eun yang jarakya lumayan jauh.aku tergesa-gesa
kesini karena mendengar berita eomma ji eun meninggal dunia.dan kupikir,ia akan
butuh support-ku sebagai sahabatnya
Aku menenteng helm.ji eun,yang ada diteras
rumah,menoleh padaku dan tersenyum,senyum yang biasa
Aku ternganga.
“annyeong yesung,kamu datang!mianhae,aku
sibuk jadi nggak bisa kasih tahu cepat-cepat.tahu dari siapa?”Tanya ji eun
ceria.ia melengang menghampiriku
Ji eun mengenakan baju hitam-hitam,khas
orang yang sedang berduka.kulihat ayahnya,didepan pintu,berdiri menyambut tamu
dengan senyum tipis,sedangkan saeng ji eun sedang menangis dan di hibur oleh
kerabatnya.
Aku melongo.
“gwanchana?”tanyaku,tak
bisa menahan diri.
“kajja,kita
kedepan.disini ramai,”ujar ji eun kalem sambil menggenggam tanganku,menuntun
keluar rumah.wajahku menghangat,lalu aku mengikuti langkahnya.
“nan
gwanchana?”tanyaku,setelah kami sampai di depan rumah.disini banyak orang,namun
tidak sesak seperti di dalam rumah.ji eun mengangkat alis,heran.
“menurut
kamu,ottokhe?”Tanya ji eun.aku bingung.
“tidak ada raungan
atau semacamnya?”kataku.ji eun menunjukkan ekspresi heran,lewat tawa kecilnya.
“lebay lo!tadi eomma
sudah dimandikan.sebentar lagi mau dikubur,dijakarta.lo mau ikut?nanti gue
bilang sama appa,gue kesana bareng lo,”jelasnya.
Aku meneliti ji
eun.wajahnya tetap ceria,auranya tetap aura pabo seperti pembawaannya di hari
biasa.seakan-akan tidak ada hal aneh atau penuh duka,lebih tepatnya yang
terjadi.tidak ada seraut kesedihan diwajahnya.
Ini aneh.padahal
biasanya ji eun anak yang sensitive.mudah menangis.
“jeongmal
gwanchana?”tanyaku sekali lagi.memastikan.
Ji eun tertawa
lagi.seakan-akan aku melawak.sial,padahal kan aku khawatir kalau ada apa-apa
dengannya.”well,yesung kyeopta,lo udah liat sendiri gue baik-baik saja.sekarang
gue mau izin ke appa dulu,lo nggak mau setor tampang ke beliau?”katanya sambil
lalu.
Aku menghela
napas,tersenyum kecil.dia mendorong bahuku pelan,berjalan ke dalam rumah.
~
Sejujurnya,reaksi ji
eun agak…membingungkan.sekarang ketakutanku tak beralasan.
Maksudku,dia
yeoja.masa tidak ada rasa sedih sama sekali di hatinya ketika ditinggal
eommanya?atau dia sudah rela sepenuhnya?secepat itukah?aku tidak yakin.
Selama kami
dimotor,menuju ke taman pemakaman tempat eomma ji eun akan beristirahat untuk
selamanya,aku menyetir sambil melamun.ketika appa meninggal dulu,jangan pernah
Tanya reaksiku.hanya akan membangkitkan luka lama.aku mengangis,mengeluarkan
air mata,namun tak ada suara.hanya diam membisu seperti mayat hidup.tak ada
yang tahu soal ini.aku tak mau membagi dukaku yang terlalu
dalam.terlalu….terluka.sampai-sampai eomma dan eunhyuk,dongsaengku,menyerah
untuk membujukku berbicara.
Aku anak kesayangan
appa.aku sangat dekat dengannya.sungguh mengagetkan ketika aku mendapat berita
appa telah dipanggil oleh-nya karena serangan jantung.
Padahal,appa sudah
janji ingin install game baru dikomputer kami dan akan memainkannya bersama.ia
juga sudah berencana denganku untuk jalan kesalah satu pusat penualan alat-alat
computer,untuk melihat-lihat.appa suka bercerita tentang masa mudanya,yang tak
pernah membuatku bosan.kami sudah siap-siap untuk jogging esok harinya…dan
semuanya,seluruh hal,yang meyakinkan aku dia akan tetap di sebelahku untuk
waktu yang lama.
Lalu appa meninggal
tiba-tiba.
Akhirnya eomma
menyerah untuk membujukku.beliau memanggil ji eun ke rumah.aku menangis didepan
ji eun.
Ji eun menghiburku
dan berusaha membuatku ceria lagi.mengajakku keliling kota,bermain,makan,belajar,apapun
yang bisa mengalihkan pikiranku dari appa.
Itu empat tahun yang
lalu.percayalah,walau aku terlihat lebih baik sekarang,namun aku masih belum
rela akan kepergian appa.luka dihatiku masih belum kering.
Dan aku takut itu terjadi pada ji eun.
Makanya,aku melompat kaget ketika mendengar eomma ji eun meninggal dari
heechul dan sun hwa.mereka menelponku dengan gaya histeris,menyuruhku buru-buru
ke rumah ji eun.
Tapi nyatanya,dia
terlihat baik-baik saja.bahkan sempat melempar beberapa lelucon.
Aku meliriknya dari
kaca sepion.dari balik helm,aku bisa melihat ji eun menatap gedung-gedung yang
kami lewati sambil melamun.
Apa yang dia
pikirkan?aku berusaha menebak dalam hati.apakah ia memikirkan soal
eommanya?atau ia memikirkan aku?atau memikirkan tugas?atau
appanya?saengnya?keluarganya?jangan-jangan ia berpikir untuk membuat lelucon
baru,seperti biasa?
Aku tidak mampu
menebaknya.ia terlihat tenang.namun,entak kenapa aku merasa ia menyembunyikan
sesuatu dariku.
Kami tiba di
tujuan.aku dan ji eun turun,jalan beriringan.ternyata mobil yang membawa eomma
ji eun dan keluarganya belum sampai ke taman pemakaman umum ini.
Salah seorang
keluarga ji eun tiba lebih dulu.lalu,entah saeng atau eonni dari eomma ji
eun,memeluk yeoja itu,setengah histeris.
“JI
EUN!!!!eommamu,kenapa cepat sekali dia pergi?waeyo ???aku tak
rela !!!dia saudara kesayanganku,kenapa dia harus pergi?
Suasana jadi
ramai.ji eun terbelalak,lalu matanya berubah jadi sayu.aku memandangunya.ji eun
tersenyum padaku,berusaha menenangkan kerabatnya sekaligus aku.ia
berkata,”ahjumma,aku juga kaget pas eomma ninggalin kita.tapi itu udah kehendak
yang di atas,kita bisa bilang apa?Cuma bisa mendoakan supaya beliau diterima di
sisi-nya,jinjja?berdoalah kita,semoga eomma selamat dialam sana.semua orang
pasti mati,”tukas ji eun sambil membelai punggung kerabatnya tersebut pelan.
Cuma bisa mendoakan
supaya beliau diterima disisi-nya?
Aish,jeongmal,ji
eun?aku masih belum bisa menerima appa pergi.ottoke aku bisa mendoakan,bila aku
masih sering berharap ia tiba-tiba datang kerumah,merentangkan tangan untuk
memelukku dan berteriak,”SURPRISE!”
Ottoke bisa kamu
rela dengan kepergian eommamu yang sangat kau sayangi itu,yang selalu kau banggakan
itu,yang suka bertengkar denganmu,yang suka kau beri hadiah,yang suka kau
candai….
Aku harap aku bisa mengerti…
Jenazah eomma ji eun datang.aku tersentak,lalu ikut membantu.mereka segera
menguburkannya.saeng ji eun pingsan ketika proses pemakaman tersebut.ji
eun,saudaranya dan aku langsung repot mengangkat ji yeon kemobil keluarga.
‘’eomma….hajima…ji yeon belum liatin wisuda SMA ji yeon….,”igau
saengnya.air mata keluar dari bola mata ji yeon.wajahnya sedih,stress,kaku.
Apakah seperti itu
wajahku,ketika appa meninggal ?
Aku menyadari ketika
tiba-tiba tubuh ji eun menjadi tegang.ia balik badan.saudara-saudaranya tidak
ada yang menyadari hal tersebut karena sibuk mengurus ji yeon.aku menyusul ji
eun yang ternyata menuju ke pusara eommanya.
Appa ji eun mendatangiku.aku terpaksa berhenti menyusul ji eun.
‘’yesung,ahjussi molla ji eun sekarang kayak gimana.dia tidak mau ahjussi
ajak bicara soal eommanya.kamu bisa,kan,ajak bicara dia ?ahjussi takut dia
syok atau apa……. ‘’
‘’aish,dia baik-baik saja,kok,ahjussi.tadi bahkan dia mengajak saya
bercanda. ‘’
Candra ahjussi tertawa.tawa yang pedih.aku menelan ludah. ‘’kamu ini
kayak gak tau ji eun saja.dia itu jago menyembunyikan perasaannya.sama
seperti dia menyembunyikan kalau dia
suka kamu,kan ?’’
Wajahku panas.aku sekarang tahu darimana bakat lawak ji eun. ‘’ahjussi
ini bisa saja bercandanya. ‘’
Ekspresi candra ahjussi kaku lagi.kaku karena kesedihan,seperti
topeng.perutku seperti dihantam bata melihatnya.candra ahjussi adalah orang
terlucu yang kukenal setelah ji eun. ‘’ahjussi tahu kamu kenal betul ji
eun.jebal.buat apapun agar ia lebih baik.kami mengadakan pengajian,tapi
sepertinya saudara sudah cukup untuk mengurus,jadi ajak ji eun ke mana
saja.bisa tidak ?untuk menghibur anank itu.’’
Apakah begitu ekspresiku,begitu terpukul dan menyedihkan,seperti candra
ahjussi,ketika appa pergi ?
‘’ne,ahjussi.’’
Candra ahjussi menepuk bahauku pelan,kemudian berlalu.kulihat ia menghibur
putri,masuk ke mobil,meninggalkan taman pemakaman ini.
Kuperhatikan sekeliling.mobil candra ahjussi adalah mobil kerabat terakhir
yang pergi.sekarang tempat ini sudah sepi lagi.
Aku mencari ji eun.ternyata ia duduk di warung the botol depan taman
pemakaman sekarang.sebuah botol air mineral ia genggam.ia melamun lagi.menatap
kendaraan yang lewat.
Aish.
Apa benar ia
menyembunyikan kesedihannya ?
Oh,tentu saja.aku
kenal ji eun.ia adalah professional.ia bisa menyembunyikan apapun yang ia
rasakan,namun tak bisa mengontrol apa yang ia pikirkan.ia bicara sesuai apa
kata kepalanya,tapi tidak menunjukkan apa pun tentang perasaannya.terlihat
jutek namun sebenarnya baik hati.
“annyeong,”sapaku.ji
eun menoleh pelan.lalu ia mengngkat alis saat melihatku.
“pulang?”tanyanya.
Aku
menggeleng.”ani.kita jalan dulu.”
~
“nangis aja,”kataku
pelan.akuu menyentuh punggung tangannya dengan ujung jariku.
Butuh keberanian
yang luar biasa besar untuk melakukan itu.namun,dari tadi perhatian ji eun
entah di mana.jadi aku sekalian saja menaruh tanganku di atasnya.
“siapa yang mau
nangis,coba?”sambar ji eun cepat.aku mengangguk sok paham.
Kami ada di sebuah
kafe di mall tengah kota tempat aku suka nongkrong dengan ji eun,heechul dan
sun hwa dulu.namun semenjak kami kelas 3
SMA ,aku hanya sekelas dengan ji eun.jadilah aku kesini berdua dengannya
semenjak itu.sama dengan heechul dan sun hwa yang sering kesini tanpa kami.
“nangis itu nggak
berarti cengeng.menangislah kalau mau,”kataku lagi.
Ji eun
mendelik.”aish,apaan sih!ngomongnya kok melankolis gitu?ini dunia nyata,bukan
sinetron!”
Aku tertawa,tawa
terpaksa.ji eun menatapku sebal,lalu ikut tertawa tidak lepas.kuperhatikan
matanya.setitik kepedihan pun tak ada.benarkah ia merasa kehilangan?dari tadi
aku menunggunya mengeluarkan emosi apa pun tetapi ia datar saja.
“pulang aja,yuk,”ji
eun bangkit.aku mengangkat bahu,mengikutinya.ji eun bicara panjang
lebar,tentang hal-hal tidak penting.aku hanya mengangguk,menggeleng,atau menggumam.tiba-tiba
ia menatapku lekat-lekat.
“lo nungguin gue
jadi histeris,ya?”tembak ji eun langkung.aku terdiam.selalu bisa membaca
pikirannku.yeoja rese.aku menarik napas,menggenggam tangan ji eun.ji eun tidak
menarik tangannya.kegembiraan menguasaiku.
“menangislah,”kataku
lagi.
“robot rusak,”ji eun
berusaha tertawa.namun tawanya sumbang,tidak ada sisa keceriaannya.di dalam
kegelapan basement,aku melihat air matanya jatuh.
“aigoo,yesung.gue
udah janji sama diri gue sendiri supaya tetap tegar dan enggak nangis.supaya ji
yeon enggak putus asa liat gue!ini semua gara-gara lo!”ujar ji eun sambil
mengusap air mata.ada canda ditengah tangisannya.
“nangis gak salah,ji
eun,”ujarku.
Merasa agak
canggung,aku merangkul ji eun.ia tidak menolak,dan terlihat nyaman.seketika aku
lega lagi.aku melihat sekeliling.basement kosong.
“relain,ji
eun,relain,”ujarku.ji eun tertawa lagi.tawa yang menyedihkan.tawa yang
menyindirku.seperti mempertanyakan kecerdasanku.
“pabo,lo,yesung.tentu
gue rela!apa sih,yang bisa terjadi kalo gue gak rela?palingan gue jadi gila !’’ji
eun mengusap pipinya lagi.’’dan apa pula ngaruhnya ke dunia kalau gue gila?kalau
gue sedih berkepanjangan?enggak ada!gue rela,yesung,rala…tapi sungguh…pas
nyokap udah enggak ada,gue gak bisa mikir apa yang harus,enggak,apa yang bisa
gue lakukan?”
“banyak,”jawabku
otomatis,itu jawaban yang ia katakana padaku dulu,ketika papa pergi.
Hening.
“banyak,”ji eun
menyetujui.
Kami terdiam,tak
bicara sepatah kata pun lagi.hanya terdengar isakan ji eun.lalu tiba-tiba Ia
melepas rangkulanku,berdiri tegak.seakan ia mampu menghadapi dunia lagi.
“kajja,pulang!”katanya,nada
suaranya ceria lagi.
“nan gwanchana?”tanyaku ragu.
“nan gwanchana?”tanyaku ragu.
Ji eun
tersenyum.membuat jantungku berdetak lebih keras.senyum itu adalah yang
membuatku jatuh cinta.senyum yang seketika membuatku sadar ia rela.ia hanya
merasa sedih karena kehilangan ibunya.
Tapi ia rela.
Tidak seperti aku.
“gue bisa tegar!”ji eun mengepalkan tangan dan mengacungkannya.’’kematian
pasti di alami seseorang kan ?termasuk gue,gue rela,yesung.’’ji eun
menoleh padaku,menarik tanganku.tubuhku rileks.ji eun baik-baik saja.’’kajja
pulang !’’rujuknya.
Aku ikut tersenyum.aku menarik rambutnya.ji eun mencak-mencak,tawa kami
memenuhi basement.
Aku tahu ji eun masih sedih.tapi aku tahu pula ia akan segera bisa
mengatasinya.
Dan setelah kejadian ini,setelah melihat ji eun,aku sadar bahwa aku sudah
rela appa pergi dari dunia ini.
~end~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar